Selasa, 12 Desember 2017

FENOMENA DAN PROFESIONALISME PUBLIC RELATION



FENOMENA DAN PROFESIONALISME PUBLIC RELATION

 

Hello guys welcome back again to my blog.
Hari ini kita akan sedikit membahas sebuah materi tentang, fenomena dan professional Public Relation.
Jadi apa sudah ada yang tau apa itu fenomena dan profesional Public Relation?
Mari kita bahas bersama.

A. FENOMENA PUBLIC RELATION

Public Relations adalah fenomena abad ke-20 yang akar-akarnya berpangkal jauh di balik sejarah, bahkan usianya pun setua komunikasi manusia itu sendiri.
Public Relations digunakan brabad-abad yang lalu di inggris, pada masa raja menggunakan Lords Chancellor sebagai “Penjaga Hati Nurani Raja” Di sini, terlihat adanya pengakuan terhadap kebutuhan pihak ketiga untuk memfasilitasi komunikasi dan pnyesuaian antara pemerintah dan rakyatnya.
Asal kemunculan Public Relations di Amerika serikat terjadi pada  masa perjuangan perebutan kekuasaan dalam Revolusi Amerika, yakni antara patriot di bawah kaum namgasawam, dan kaum konservatif yang komersial dan bermoda. Juga upaya pendukungan public melibatkan konflik antara kepentingan saudagar dan tuan tanah di bawah Hamilton, blok penggarap tanah dan petani oleh petani oleh Jefferson, pejuangan antara pelopor pertanian Jackson, kekuatan keuangan Nicholas biddle, dan perang saudara berdarah.
Adapun menurut seorang ahli praktisi Publik Relation, Prita Kemal Gani (2017) Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat serangkaian fenomena yang turut mempengaruhi aktivitas Publik Relation, dimana dapat diketahui bahwa kegiatan Public Relation selalu melibatkan stakeholder (pemangku kepentingan) yang berfungsi dalam melangsungkan aktivitasnya.
Terdapat beberapa fenomena di dalam Public Relation, fenomenanya antara lain :
1.      arus globalisasi
Fenomena globalisasi terjadi sebagai perkembangan peradaban manusia, yang dipicu oleh kemajuan teknologi komunikasi. Waktu dan jarak bukan lagi menjadi masalah yang signifikan. Di sisi lain, penguasaan informasi pun menjadi sebuah kata kunci yang turut mendorong persaingan. Siapa yang menguasai informasi, ‘dia’ akan menang dalam persaingan. Mau tidak mau, praktìsi PR harus memahami globalisasi sebagai fenomena yang sangat mempengaruhi aktivitasnya. Dengan kata lain apa bila dia tidak mau mengikuti perkembangannya dia akan kalah.
2.      perubahan sistem politik
Sistem politik Indonesia yang semakin hari semakin demokratĂ­s, dapat membawa pengaruh yang sangat besar bagi aktivitas Publik Relation. Karena perubahan system politik yang baru dapat semakin meningkatkan kinerja praktisi Publik Relation.
3.      perubahan sistem media massa
Media massa, termasuk organisasi kewartawanan mengalami perubahan signifikan sejak dikeluarkannya UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. UU Pers memungkinkan media massa tumbuh bebas, bahkan sangat pesat dan tanpa intervensi pemerintah. Profesi jurnalis pun mendapatkan Kebebasan sepenuhnya. Selain PWI, organisasi kewartawanan  makin banyak bermunculan seperti AJI, IJTI, PFI, dan sebagainya. Fenomena tersebut mendorong PR harus mampu membuat pemetaan dan menjalin relasi baik dengan berbagai jurnalis pada setiap media, guna selalu mendapatkan kabar terupdate.
4.      fenomena perkembangan media sosial
Efek dan perkembangan media sosial tersebut membuat arus informasi semakin mudah dan cepat bergulir. Fenomena tu memaksa praktisi Publik Relation untuk mampu memantau arus opini publik, yang mungkin tidak mencuat pada media konvensional, Banyak informasi penting dan bahkan mungkin lebih faktual untuk kehidupan suatu organisasi, justru muncul dan berkembang melalui media sosial.
5.      fenomena kebebasan informasi
Dengan diberlakukannya UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) maka begitu banyak bal yang harus diubah dalam pengelolaan badan publik atau organisasi. Para PR di berbagai badan publik tidak boleh menutup informasi kepada masyarakat. Betapa tidak, menurut UU itu, semua informasi Publik-- selain yang dikecualikan berdasarkan UU KIP—harus dibuka. Hal ini tentu menuntut praktisi PR untuk mampu menyampaikan informasi tersebut kepada publik.

B. PROFESIONAL PUBLIC RELATION

Seorang Public Relations yang memiliki sikap professional haruslah memiliki sebuah referensi bacaan secara khusus yang tentu saja berkaitan dengan bidangnya. sementara itu berkaitan dengan masalah etika, seorang Public Relations yang professional akan menjunjung tinggi kode etik, sehingga di dalam menjalankan profesinya akan dibimbing oleh etika tersebut. Seorang Public Relations yang professional harus menguasai beberapa keterampilan komunikasi seperti penguasaan teknologi komunikasi dan juga kemampuan bahasa asing. Dalam membantu sosialisasi pekerjaannya, Public Relations menjalin kerjasama dengan media, karena itu seorang Public Relations professional harus memiliki kemampuan dalam menulis press release. Sedangkan untuk penyediaan informasi secara internal ia harus memiliki kemampuan presentasi dan negosiasi.
Menurut seorang ahli Praktisi Public Relation, Grunig dan Hunt pemahaman profesionalisme dalam Public Relations (1984: 66) bisa kita lihat dari beberapa factor, factor- faktornya berikut ini:
1.      Adanya seperangkat nilai-nilai profesional
Indikator dari nilai-nilai professional ini ialah adanya kebebasan dalam menuangkan hasil pemikiran dan berusaha mendahulukan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi.
2.      Keanggotaan pada asosiasi profesi
Asosiasi ini didasarkan pada kesamaan profesi yang dimiliki anggotanya. Dalam asosiasi ini ada etika atas aturan yang telah disepakati bersama dan ada sangsi bagi yang melanggar.
3.      Taat pada norma-norma professional (etika, kode etik, dan penerapannya).
Asosiasi profesi yang ada kemudian mengeluarkan kode etik profesi untuk mengatur dan menjaga moralitas para anggotanya dalam menjalankan pekerjaannya. Kode etik kehumasan Indonesia telah memiliki kode etik profesi yang mengatur mengenai komitmen pribadi, perilaku terhadap klien dan atasan, perilaku terhadap rekan sejawat.
4.      Adanya bangunan pengetahuan dan tradisi intelektual
Maksudnya agar para praktisi yang menggeluti bidang ini memiliki kepemilikan pengetahuan teoritis yang cukup kuat agar dasar dari setiap aktivitas yang dilakukan serta ada pertanggungjawabannya. Pengetahuan sebagian besar bisa diperoleh dari jalur pendidikan formal. Terutama jika jalur pendidikan formal tersebut sejalan dengan profesi yang dijalankan.
5.      Adanya keterampilan teknis
Keterampilan teknis ini bisa didapat dari pelatihan-pelatihan professional. Bentuknya antara lain keterampilan menulis dan berbicara. Masih banyak keterampilan-ketrampilan lain yang perlu dipelajari atau dilatih yang memakan waktu cukup lama.


Kesimpulan :
           yang dapat saya ambil dari penjelasan di atas adalah bahwa di dalam Publik Relation memiliki beberapa fenomena yang berfungsi memperbaiki kinerja praktisi Publik Relation, karena fenomena ini menjadi acuan bagi para praktisinya. Sedangkan untuk profesionalisme ini sangat berguna agar para praktisi Publik Relation dapat bekerja sesuai dengan targetnya.


Daftar Pustaka :

UJIAN AKHIR SEMESTER KELAS C SEMESTER 7

KELAS C UJIAN AKHIR SEMESTER JURUSAN PERBANKAN SYARIAH TAHUN AKADEMIK 2017/2018 Nama               : D onny Ari Fernanda Nim   ...