FENOMENA
DAN PROFESIONALISME PUBLIC RELATION
Hello guys welcome back
again to my blog.
Hari ini kita akan
sedikit membahas sebuah materi tentang, fenomena dan professional Public
Relation.
Jadi apa sudah ada yang
tau apa itu fenomena dan profesional Public Relation?
Mari kita bahas
bersama.
A.
FENOMENA PUBLIC RELATION
Public Relations adalah
fenomena abad ke-20 yang akar-akarnya berpangkal jauh di balik sejarah, bahkan
usianya pun setua komunikasi manusia itu sendiri.
Public Relations
digunakan brabad-abad yang lalu di inggris, pada masa raja menggunakan Lords
Chancellor sebagai “Penjaga Hati Nurani Raja” Di sini, terlihat adanya
pengakuan terhadap kebutuhan pihak ketiga untuk memfasilitasi komunikasi dan
pnyesuaian antara pemerintah dan rakyatnya.
Asal kemunculan Public
Relations di Amerika serikat terjadi pada
masa perjuangan perebutan kekuasaan dalam Revolusi Amerika, yakni antara
patriot di bawah kaum namgasawam, dan kaum konservatif yang komersial dan
bermoda. Juga upaya pendukungan public melibatkan konflik antara kepentingan
saudagar dan tuan tanah di bawah Hamilton, blok penggarap tanah dan petani oleh
petani oleh Jefferson, pejuangan antara pelopor pertanian Jackson, kekuatan
keuangan Nicholas biddle, dan perang saudara berdarah.
Adapun menurut seorang
ahli praktisi Publik Relation, Prita Kemal Gani (2017) Dalam beberapa tahun terakhir
ini terdapat serangkaian fenomena yang turut mempengaruhi aktivitas Publik Relation,
dimana dapat diketahui bahwa kegiatan Public Relation selalu melibatkan stakeholder
(pemangku kepentingan) yang berfungsi dalam melangsungkan aktivitasnya.
Terdapat beberapa
fenomena di dalam Public Relation, fenomenanya antara lain :
1. arus
globalisasi
Fenomena
globalisasi terjadi sebagai perkembangan peradaban manusia, yang dipicu oleh
kemajuan teknologi komunikasi. Waktu dan jarak bukan lagi menjadi masalah yang
signifikan. Di sisi lain, penguasaan informasi pun menjadi sebuah kata kunci
yang turut mendorong persaingan. Siapa yang menguasai informasi, ‘dia’ akan
menang dalam persaingan. Mau tidak mau, praktìsi PR harus memahami globalisasi
sebagai fenomena yang sangat mempengaruhi aktivitasnya. Dengan kata lain apa
bila dia tidak mau mengikuti perkembangannya dia akan kalah.
2. perubahan
sistem politik
Sistem
politik Indonesia yang semakin hari semakin demokratís, dapat membawa pengaruh
yang sangat besar bagi aktivitas Publik Relation. Karena perubahan system
politik yang baru dapat semakin meningkatkan kinerja praktisi Publik Relation.
3. perubahan
sistem media massa
Media
massa, termasuk organisasi kewartawanan mengalami perubahan signifikan sejak
dikeluarkannya UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. UU Pers memungkinkan media
massa tumbuh bebas, bahkan sangat pesat dan tanpa intervensi pemerintah.
Profesi jurnalis pun mendapatkan Kebebasan sepenuhnya. Selain PWI, organisasi
kewartawanan makin banyak bermunculan
seperti AJI, IJTI, PFI, dan sebagainya. Fenomena tersebut mendorong PR harus
mampu membuat pemetaan dan menjalin relasi baik dengan berbagai jurnalis pada
setiap media, guna selalu mendapatkan kabar terupdate.
4. fenomena
perkembangan media sosial
Efek
dan perkembangan media sosial tersebut membuat arus informasi semakin mudah dan
cepat bergulir. Fenomena tu memaksa praktisi Publik Relation untuk mampu
memantau arus opini publik, yang mungkin tidak mencuat pada media konvensional,
Banyak informasi penting dan bahkan mungkin lebih faktual untuk kehidupan suatu
organisasi, justru muncul dan berkembang melalui media sosial.
5. fenomena
kebebasan informasi
Dengan
diberlakukannya UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP)
maka begitu banyak bal yang harus diubah dalam pengelolaan badan publik atau
organisasi. Para PR di berbagai badan publik tidak boleh menutup informasi
kepada masyarakat. Betapa tidak, menurut UU itu, semua informasi Publik--
selain yang dikecualikan berdasarkan UU KIP—harus dibuka. Hal ini tentu
menuntut praktisi PR untuk mampu menyampaikan informasi tersebut kepada publik.
B.
PROFESIONAL PUBLIC RELATION
Seorang Public
Relations yang memiliki sikap professional haruslah memiliki sebuah referensi
bacaan secara khusus yang tentu saja berkaitan dengan bidangnya. sementara itu
berkaitan dengan masalah etika, seorang Public Relations yang professional akan
menjunjung tinggi kode etik, sehingga di dalam menjalankan profesinya akan dibimbing
oleh etika tersebut. Seorang Public Relations yang professional harus menguasai
beberapa keterampilan komunikasi seperti penguasaan teknologi komunikasi dan
juga kemampuan bahasa asing. Dalam membantu sosialisasi pekerjaannya, Public
Relations menjalin kerjasama dengan media, karena itu seorang Public Relations
professional harus memiliki kemampuan dalam menulis press release. Sedangkan
untuk penyediaan informasi secara internal ia harus memiliki kemampuan
presentasi dan negosiasi.
Menurut seorang ahli
Praktisi Public Relation, Grunig dan Hunt pemahaman profesionalisme dalam
Public Relations (1984: 66) bisa kita lihat dari beberapa factor, factor- faktornya
berikut ini:
1. Adanya
seperangkat nilai-nilai profesional
Indikator
dari nilai-nilai professional ini ialah adanya kebebasan dalam menuangkan hasil
pemikiran dan berusaha mendahulukan kepentingan publik diatas kepentingan
pribadi.
2. Keanggotaan
pada asosiasi profesi
Asosiasi
ini didasarkan pada kesamaan profesi yang dimiliki anggotanya. Dalam asosiasi
ini ada etika atas aturan yang telah disepakati bersama dan ada sangsi bagi
yang melanggar.
3. Taat
pada norma-norma professional (etika, kode etik, dan penerapannya).
Asosiasi
profesi yang ada kemudian mengeluarkan kode etik profesi untuk mengatur dan
menjaga moralitas para anggotanya dalam menjalankan pekerjaannya. Kode etik
kehumasan Indonesia telah memiliki kode etik profesi yang mengatur mengenai
komitmen pribadi, perilaku terhadap klien dan atasan, perilaku terhadap rekan
sejawat.
4. Adanya
bangunan pengetahuan dan tradisi intelektual
Maksudnya
agar para praktisi yang menggeluti bidang ini memiliki kepemilikan pengetahuan
teoritis yang cukup kuat agar dasar dari setiap aktivitas yang dilakukan serta
ada pertanggungjawabannya. Pengetahuan sebagian besar bisa diperoleh dari jalur
pendidikan formal. Terutama jika jalur pendidikan formal tersebut sejalan
dengan profesi yang dijalankan.
5. Adanya
keterampilan teknis
Keterampilan teknis ini bisa didapat dari
pelatihan-pelatihan professional. Bentuknya antara lain keterampilan menulis
dan berbicara. Masih banyak keterampilan-ketrampilan lain yang perlu dipelajari
atau dilatih yang memakan waktu cukup lama.
Kesimpulan :
yang dapat saya ambil dari penjelasan di atas adalah bahwa di dalam Publik
Relation memiliki beberapa fenomena yang berfungsi memperbaiki kinerja praktisi
Publik Relation, karena fenomena ini menjadi acuan bagi para praktisinya.
Sedangkan untuk profesionalisme ini sangat berguna agar para praktisi Publik
Relation dapat bekerja sesuai dengan targetnya.
Daftar
Pustaka :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar